Tentang kata, doa, vibrasi, dan realita..

Selamat datang di daryusman.staff.ut.ac.id

Tentang kata, doa, vibrasi, dan realita..

Ingat Ini di kelas hypnoteraphy bulan januari lalu ternyata soal ini sudah ada tesis s3 dr seorang doktor bidang psikoterapi
*KEMATIAN MAS DIDI KEMPOT, APA YANG BISA KITA AMBIL HIKMAH?*
Percakapan di kuliah Klatak University malam ini adalah tentang kata, doa, vibrasi, dan realita..
Apa yang bisa dihikmahi dari peristiwa besar hari ini: meninggalnya maestro campursari Didi Kempot?
Dimulai dari membahas kabar om Didi Kempot. Tapi bahasan dimulai dari Nia Daniati.
Pada jaman Om Harmoko jadi Menpen dulu, beliau sempat melarang masyarakat menyanyikan lagu-lagu melow. Karena dianggap kurang bagus, akan mempengaruhi produktivitas masyarakat. Orang jadi letoy dan tidak optimis memandang masa depannya. Sontak, apa yang dinyatakan sang menteri itu menjadi kontroversi.
Beberapa waktu kemudian, dalam wawancara di stasiun teve, baik Nia Daniati maupun Betharia Sonata mengungkapkan keresahan hatinya; mengapa kisah-kisah hidupnya menjadi mirip dengan lagu-lagunya. Berujung tragika! Dipulangkan ke orangtua, gelas rumah tangga yang selalu retak, kemalangan yang terus terjadi sepanjang lagi itu menjadi hits.
Apakah ada hubungannya antara lagu dengan terciptanya realita?
Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, penyanyi muda bertalenta Ariel Paterpan terbongkar kasusnya. Orang kemudian teringat dengan lirik lagunya yang sangat populer: buka saja topengmu! Ariel akhirnya harus menerima nasib persis apa yang diungkapkannya dalam lirik lagunya. Glend pun demikian. Akhir Cerita Cinta kita, akhirnya memang harus berakhir sudah! Glend Fredly menuliskan sendiri kisah hidupnya dengan sempurna lewat lirik lagu yang diciptakannya.
Dan Seventeen pun mengulang lagi kisah sendu itu dalam lagunya yang paling poluler: Kemaren. Ia berucap dengan sepenuh rasa: Di sini aku sendiri. Mengenangmu. Semoa engkau tenang di sana. Selamanya… Dan saat konser di Banten, ombak laut menggulung semua teman-temannya. Dan hanya dia sendiri yang selamat. Bahkan anak isterinya pun ikut pergi selamanya bersama kawan-kawan bandnya. Dia hanya bisa mengenang semua itu. Sendiri!
Itu pula sebabnya Maia Estianty dalam hatinya terlintas sesal mengapa harus menulis lagu Buaya Darat dan Teman Tapi Mesra. Dan semuanya hits. Saat jadi trend dan dimana-mana orang menyanyikannya, semesta akan memprosesnya. Dan siapa sangka, kalau suaminya kemudian akan mesra dengan teman dekatnya lalu merebut kemesraan suaminya. Temannya menjadi realita, bermesra-mesra dengan suaminya dan mengambil alih status isteri yang telah digenggamnya berpuluh tahun.
.
Desember tahun lalu, saat kuliah di Klatak University berbarengan dengan konser Didi Kempot di Dies Natalis Kampus UGM, fenomena itu pernah kita bahas. Kita meresahkan dua hal yang punya potensi buruk di masa depan.
Soal yang pertama, sejak kapan ada sejarahnya musik jalanan, pinggiran, campursari dangdut, masuk ke kampus intelektual? Ini fenomena apa? Jazz masuk kampus sudah biasa, karena selama ini citra musik kelas menengah intelektual ada di musik itu. Tapi, campur sari, dangdut koplo? Yang lagu-lagunya sangat melow?
Soal yang kedua, saat itulah gelar The Good Father of Broken Heart didengungkan. Bagaimana pun itu kosa kata yang agak berlawanan dengan iklim kampus yang harus penuh optimisme dan rasionalitas.
Dua hal itu yang kemudian menjadi bahasan dan meresahkan. Kita mengkuatirkan hal-hal yang buruk bisa saja terjadi dengan adanya konser penuh lautan manusia yang semua justru antusias menyanyikan dan mengucapkan kata-kata yang bernuansa negatif: broken heart, cidro janji, ambyar, dan seterusnya. Bisa dicek postingan tentang ini di bulan-bulan itu.
Guru saya pakar property Ir Ardhian Denka sempat melontarkan kalimat kecemasan: rasanya ini tanda bahaya! Ribuan orang seolah merayakan dengan penuh kegembiraan kata-kata yang berkonotasi negatif. Kalau tidak segera sadar diri, merayakan kegembiraan atas rasa-rasa negatif, akan membuat semesta mempercepat proses getarannya untuk menjadi realita. Itu rumus bakunya. Jadi pantas kalau beliau mengkuatirkan impaknya.
.
Dalam kita suci ilmu vibrasi yang ditulis oleh Arif RH (salah satu guru saya yang ketemu di kemudian hari setelah ditunjukkan oleh sahabat saya Denn Baas) dijelaskan soal vibrasi dan rasa. Lebih tepatnya, kalimatnya adalah bahwa Rasamu adalah Doamu. Maka hati-hati dengan yang kaurasakan dengan sepenuh jiwa, karena itu akan menjadi doa, dan doa itu kalau menurut agama kita, cepat atau lambat pasti akan dikabulkan. Semakin yakin, semakin sepenuh jiwa doa itu diucapkan, semakin cepat menjadi realita.
Yang kita resahkan saat itu adalah bagaimana jika kata broken heart, ambyar, ingkar janji, dan beberapa kata berenergi lemah lainnya setiap hari diucapkan ribuan orang. Dalam konser-konser, di angkutan umum, di mall, di televisi, di radio-radio, di jalanan trotoar, ditulis di belakang truk-truk yang melintas di jalanan, di pos-pos ronda, dan seterusnya. Bukankah bisa berbahaya untuk yang sering mengucapkannya. Yang sering mengikutinya. Berbahaya bagi realitas yang akan tercipta dan berdampak bagi banyak orang yang menerima vibrasinya?!
Ambyar secara konotatif punya makna buruk. Dan ini adalah vibrasi force. Jika ini diucapkan oleh ribuan orang, apalagi dengan perasaan gembira, dengan suka cita, dengan sepenuh rasa bukankah ini akan sangat berbahaya? Berbahaya jika menjadi realita. Cepat atau lambat. Karena itu tadi, vibrasi adalah rasa, rasa adalah doa, doa adalah takdir yang akan tercipta, cepat atau lambat, karena janji Tuhan setiap doa akan dikabulkan oleh-Nya.
Doa terbaik untuk Om Didi Kempot. Semoga perjalananmu sejak mualaf hingga akhir hayat akan bermuara pada kedamaian yang abadi di sisi Allah SWT!
*Among Kurnia Ebo*
Vibrasinya sama dengan karya Alm. Bapaknya dulu (Ranto) – *Anoman Obong* – yang tak lama kemudian banyak _obong-obongan_
 
sumber:https://www.facebook.com/maulidya.rahmahamdi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *