Pondok Cabe
+1500024
daryusman@ecampus.ut.ac.id

The Rise of Khalid bin Walid

Selamat datang di daryusman.staff.ut.ac.id

The Rise of Khalid bin Walid

Pada postingan yang lalu saya bilang kita akan membahas Khalid bin Walid ra. Tapi saya kebingungan sendiri, karena Khalid ini panjang ceritanya. Mungkin saya perlu 500 halaman atau dua jilid untuk menulis secara rinci. Trus saya harus cukupin dalam satu postingan?

Meski dia sahabat yang paling telat bergabung, tapi cerita dia paling banyak diantara yang lain. Dia ganteng, gagah, tinggi besar, cerdas, dan suaranya khas superhero. Terlahir dari kalangan aristrokrat Arab, dicintai para pemuda, panutan para bapak, digilai ibu-ibu… kurang apa? Dari zaman jahiliyah, dia udah punya base fans, apalagi pas zaman sudah jadi sahabat.

Saya longkap saja dari cerita dia bergabung jadi “Tim The Avenger”. Khalid ini pada masa jahiliyahnya pernah tempur melawan kaum muslimin. Dia arsitek perang uhud, yang mengakibatkan gugurnya sejumlah perwira Nabi SAW. Jadi memang, Nabi dan para sahabat ini kadang menang perang, dan kadang juga kalah. Tapi jangan dikira perang ini kayak perang lawan Belanda atau Jepang. Perang mereka ini lebih mirip “civil war”. Karena yang dilawan, ya saudara mereka juga. Kadang itu kakak lawan adik, anak lawan bapak, lawan paman, sepupu, yah gitu lah rasanya lawan sodara sendiri.

Kalo baca sirah, kadang kita senyum juga kalo ada dari kalangan lawan yang tertangkap. Misal, waktu terjadi perang Badar, Abbas bin Abdul Muthallib, paman Nabi, saat itu berada pada barisan orang-orang musyrik yang tertangkap. Abbas ini sebetulnya sama sikapnya dengan paman Nabi, Abu Thallib. Sama-sama melindungi Nabi, lantaran mereka keluarga klan Bani Hasyim, tapi tidak mau bergabung bersama Nabi. Padahal istrinya malah sudah hijrah duluan.

Makanya ga habis pikir, koq bisa dia tertangkap dalam perang Badar, padahal dia dipihak Nabi. Maka tertangkaplah dia. Sahabat juga ga ada yang tega eksekusi beliau, sehingga beliau cuma diikat di mesjid. Akhirnya Nabi minta beliau bebasin diri sendiri, tebus diri sendiri. Tapi Nabi minta tebusan rada banyak. Buat para sahabat Muhajirin, perang badar ini satu ajang “bayar hutang”. Mereka hijrah ninggalin rumah dan kekayaannya. Harta mereka banyak yang diambil orang-orang Mekah. Makanya mereka minta tebusan buat orang-orang mekah yang tertangkap.

Sadar ga bawa uang, dia minta Nabi sabar barang sedikit. Karena keluarganya pasti akan nyusul bawa tebusan. Dan banyak sandera yang tertangkap pun juga ujung-ujungnya dilepas pakai tebusan.

Klo pun akhirnya mereka yang dulu jadi lawan dalam perang, lalu akhirnya ikut bergabung bersama Nabi, sama sekali ga ada perasaan dendam atau sakit hati diantara mereka. Karena pada dasarnya mereka pun satu sama lain ada hubungan keluarga juga.
———————————————————————————
Waktu berlalu bertahun-tahun setelah perang uhud, sampai akhirnya Rasul masuk ke Mekkah untuk melaksanakan umrah setelah adanya perjanjian damai dengan orang-orang Mekkah. Walid, adik Khalid bin Walid, (anak dan bapak namanya sama2 “Walid”), masuk Islam lebih dulu. Nabi tanya kepada Walid, “Abangmu mana si Khalid? Koq dia ga mau gabung sama kita?”. Walid pun mencari abangnya, tapi ga ketemu. Maka dia tulis surat buat disampaikan kepada Khalid.

“Bismillah. Bang, ente khan orang cerdas. Semua orang tau agama ini, cuman ente doang yang telat. Rasul kemarin nanyain ente kemana? Gabung sama kita, otak ente yang encer pasti kepake. So what you’re waiting for? We here, we’re waiting”. Sent!

Ga lama, muncul centang biru. Khalid telah membaca surat tersebut sambil mikir agak lama sampai tertidur. Dalam tidurnya, dia melihat derah yang sempit dan gersang tanpa tanaman dan air. Lalu beliau beranjak ke wilayah lain yang hijau dan luas. Khalid terbangun, tapi mimpi itu terlanjur berkesan.

Jalan ke Medinah sangat jauh. Ga asyik jalan sendiri. Maka dia samperin kawan dekatnya. Dua orang menolak. Tinggal satu yang “terperdaya” ajakan Khalid untuk menembus padang pasir sejauh 100 km. Dialah Utsman bin Thalhah. Berdua mereka berkuda ke Medinah.

Tengah perjalanan menuju Medinah, keduanya bertemu Amru bin Al Ash ke arah yang sama. Terjadilah “akward” moment disana. Karena baik Khalid maupun Amr adalah “partner in crime” tiap perang-perang. Jelas-jelas kawan ini, Amr bin Ash, mau membelot ke Medinah, tujuan mereka sama. Ini seperti meme Ronald McDonald kirim CV ke perusahaan saingan McD, Burger King.

Amr: Marhaban
Khalid: Marhaban.
Amr: Ente mau kemana?
Khalid: Lha, ente ngapain keluar jauh-jauh ke sini?
Amr: Ente juga jalan bisa jauh kayak gini mo apa?
Khalid: Mo masuk Islam!
Amr: Ane temenin!

———————————————————–

Khalid termasuk orang dekat nabi, salah satu sekretaris beliau juga. Tapi debut awal beliau jadi jendral baru terjadi setahun setelahnya, yaitu saat perang Mu’tah. Pada masa perjanjian Hudaibiyah, Rasul cukup aktif mengirim utusan ke negara sekitar untuk menyampaikan risalah. Ada yang menerima, seperti raja Yaman. Ada yang minta damai, seperti raja Mesir dan Romawi. Ada yang ngajak ribut, seperti Raja Bushra. Kerajaan ini malah membunuh utusan Nabi, Harits bin Umair ra. Padahal utusan itu secara adat, adalah diplomat negara. Membunuh diplomat sama dengan tantangan perang.

Beking Raja Bushra bukan main besarnya, yaitu imperium romawi. Kita ga heran kalo mereka sampai ga menghormati adat, karena mereka berasa diri gangster, hidup aman karena ada yang beking. Rasul dan para sahabat murka luar biasa. Hina sekali mereka perlakukan tamu negara. Biarpun negara mereka kecil saat itu, tapi semua bertekad “mengajari” kacung romawi ini sopan santun.

Pesan Nabi SAW, “Jika Zaid gugur, maka Ja’far menggantikan. Jika Ja’far gugur, Abdullah bin Rawahah menggantikan”. Perkiraan Nabi, perang ini akan panjang karena besarnya jumlah musuh, sehingga Nabi sampai harus menyebut nama tiga jendral.

Mata-mata pasukan sudah dapat berita shahih. Bahwa Raja Romawi, Heraklius, kirim 100.000 pasukan buat nolong raja Bushra, demikian juga tambahan 100.000 pasukan lagi dari kabilah Arab seagama, jadilah total jendral 200.000 pasukan. Pasukan Nabi cuma 3000 orang. Kalah jumlah lebih 300x lipat. Maka diskusilah para jendral dan anak buah mereka.

“Kita minta tambahan pasukan deh ke Nabi. Ga lucu kan, mo kasih pelajaran ke orang, eh malah kita yang abis”.
Ini argumennya masuk akal sebetulnya. Hampir saja semua setuju, tiba-tiba jendral ketiga, Abdullah bin Rawahah nyeletuk, “Bukannya kita rame-rame kemari emang lagi cari mati?”

Pernyataan pendek ini malah membalik keraguan jadi kenekatan, kayak nyiram bensin ke dalam api. “Ga usah tunggu-tunggu pasukan medinah, kita beresin sekarang itu yang kemarin nyiksa Bang Harits”, jiwa korsa mereka meledak. Sekali sauh diangkat, pantang surut ke belakang. Perang 1 banding 300. Satu orang harus lawan 300 orang. Mereka para sahabat biasa menghadapi musuh dalam jumlah lebih besar, semisal dalam perang Badar, 300 lawan 1000. Tapi tidak dalam jumlah rasio segini. Sebetulnya mereka punya alasan kuat untuk mundur. Karena, Allah saja hanya menyebut 1:10, yaitu “Jika ada di antara kalian 20 orang yang bersabar maka akan mengalahkan 200 orang.” (QS. Al Anfal: 65).

So, this is insane. Litterally, this is a mission impossible. Kalo memang ini akhir dunia, let it be.

Perang sangat sengit dari kedua belah pihak. Melihat lawan kalah jumlah, pasukan romawi sangat bernafsu mengeroyok jagoan-jagoan kita. Jenderal terkuat saat itu Zaid bin Haritsah. Beliau sudah makan asam garam bertahun-tahun perang ga imbang kayak gini. Dia harus mengatur siasat, pegang bendera, dan melawan dua tiga musuh sekaligus. Sosok jendral tentu jadi center of attention. Dipihak lawan sudah wanti-wanti. Sayembara sepuluh ribu dollar buat yang bisa rubuhin jenderal kita ini.

Cari mati justru bikin pasukan ini ga bisa mati. Justru pihak lawan sudah ketambahan ratusan janda kembang. They are just too good. Too solid.

Tapi musuh mereka selalu datang dengan tenaga baru dan nyawa baru. Koin mereka ga habis-habis. Tenaga mereka makin kendur, setelah perang dari pagi sampai siang. Pegang pedang seberat 2-3 kilo dan mengayunkannya tanpa henti selama setengah hari…?? Bro, Federer aja loyo main tenis 2 jam lawan Djokovic.

Satu panah menembus dada Zaid, roboh lah pahlawan itu seketika. Blom sempat bendera itu terjatuh, Ja’far bin Abi Thalib merebutnya sambil menghela kudanya. Pertempuran dilanjutkan dibawah bendera Ja’far sampai akhirnya kanan tanannya kena tebas. Ja’fa masih melanjutkan pertempuran sampai tangan kirinya yang mulia pun lepas darinya. Bendera itu dirangkul dengan dadanya sampai beliau gugur membawa 90 luka lebih antara tebasan pedang, tusukan panah atau tombak.

Jenderal Abdullah bin Rawahah mengambil komando selanjutnya diatas kudanya. Orang terkuat ketiga, beliau nampak laksana pangeran Arab dengan kuda putihnya mengayunkan senjatanya ke arah lawan. Ribuan sudah korban dari pihak romawi, sedangkan pihak tentara nabi baru kehilangan dalam hitungan jari. Sore harinya beliau menyusul kedua jenderal tersebut. Pasukan sesaat seperti ayam tanpa induk, tapi mereka bertekad menegakkan bendera tersebut.

Mereka mulai tunjuk-tunjukan siapa yang jadi Jenderal selanjutnya. Tsabit bin Aqram merebut bendera, tersebut lalu berkata, “Wahai saudaraku, ayo pilihlah jenderal diantara kita”. Semua menyahut, “Ente ajalah”. Tsabit menjawab, “Maqom ane belum nyampe!”. Tsabit ini merendah doang, karena bintang jasa dia sebetulnya udah berderet di pundak kiri dan kanan. Tapi dia melihat ada yang lebih pantas darinya.

Semuanya melihat ke Khalid bin Walid ra. Mereka tahu kualitas orang ini. Juara Mix Martial Art dari kecil. Body kayak raksasa, sabetan pedangnya paling powerfull. Tanpa melihat, orang bisa bedain siapa yang tarung. Klo Khalid bin Walid, pasti dentuman pedangnya paling nyaring.

Besoknya, Khalid memimpin peperangan. Dia memikirkan rencana perang yang menimbulkan teror di hati orang-orang Romawi. Sebetulnya mereka menang banyak. 3000 prajurit romawi mati, sedangkan dipihak mereka cuma gugur 12 orang saja! Kayaknya sudah waktunya undur diri, mereka bukan Superman. Hukuman sudah dilaksanakan. 3000 wanita jadi janda, tinggal diangkut lain waktu. Tapi gimana meloloskan diri dari romawi yang mengamuk dan tentaranya ketambahan pasukan tiada henti. Sedangkan pasukan Khalid ya itu-itu aja. Dia tahu betul bahwa melarikan diri dari romawi sangat sulit, jika pertahanan mereka terbuka sedangkan orang-orang Romawi mengejar.

Dengan siasat baru, Khalid membuat ilusi psy-war. Dia perintahkan pasukannya dibagian belakang untuk membuat debu-debu membubung tinggi, sambil bersuara sekencang-kencangnya. Lalu mengubah posisi pasukannya dari semula; yaitu pasukan depan ke belakang dan sebaliknya, pasukan kanan ke kiri dan sebaliknya, sehingga tampak bagi musuh bahwa kaum muslimin mendapat bantuan tentara yang baru. Romawi sontak berpikir, “kaum muslimin dapat bantuan tentara yang jumlahnya ga ke hitung”. Magic, Khalid benar-benar master in disguise.

Stay behind me! Khalid menarik pasukannya pelan2 sedangkan dia posisi paling belakang, berhadapan dengan romawi langsung. Dan ini yang paling epic, mo dikeroyok berapapun pasukan romawi, mereka tidak sanggup merobohkan Khalid.

“Guys, I lost my ammo!”, pedang Khalid patah saking nafsunya dipakai menggebuk.
“Reload!”, seru anak buah Khalid. Maka mereka lemparkan sebilah pedang ke arahnya. Pelurunya Khalid yang pedang-pedangnya itu. Dia terampil menggunakan segala macam pedang, segala merek. Apalah itu Fender Stratocaster, Telecaster, Gibson, Rickenbecker, Ibanez, Jackson. Aksi “reload” ini sampai 9 kali. Pedang Khalid patah semua. Pedang baja itu tidak dirancang untuk bisa patah, kecuali pemiliknya menggunakan dengan terlalu intens. Ga kehitung sudah berapa pedang dia patahkan selama hidupnya melewati 200 peperangan.

He is the real living Highlander. Tanpa pedang pun, tinju sosok raksasa ini sangat mematikan. Saya ga terlalu banyak dapat gambaran fisik Khalid. Tapi keterangan yang sampai pada kita menyebutkan bahwa fisik dan wajah Khalid sangat mirip sepupunya, Umar bin Khattab ra. Sedangkan gambaran Umar menurut riwayat, jika dia menaiki kuda Arab yang terkenal besar itu, kakinya masih menyentuh tanah. Jelas sosok Khalid tentu paling kentara diantara para jagoan Arab.

Pasukannya berhasil mundur semua dengan selamat sampai jauh ke gurun pasir mengarah ke Medinah. Romawi termakan ilusi, ga berani mengejar lagi di padang terbuka kuatir ketemu banyak “kejutan” lain. Sebelum pasukan itu kembali ke Medinah, Rasul mengabarkan dari wahyunya, “Zaid membawa bendera sampai gugur. Lalu bendera diambil jafar, dia pun gugur. Lalu bendera diambil Abdullah bin Rawahah, diapun gugur.” Rasul mulai menitikkan air mata, “Lalu bendera itu diambil oleh Sang Pedang Allah” (HR. Bukhari (2/611).
—————————————————————————————

Efek perang Mu’tah — Pada perang ini, sekalipun mereka tidak berhasil menghabisi K.O semua lawan, tapi membangkitkan pesona luar biasa kaum muslimin. Ternyata negara superpower zaman itu, Romawi, yang supernya setara USA dan Rusia saat ini, bisa digebukkin sama pasukan jumlah kecil. Raja Romawi, Heracalius, tidaklah unbeatable.

Heracalius: We are unbeatable!
Khalid: I am gonna end this man whole career!

Sejak saat itu, Khalid makin nekat. Dia ga pernah pusing lagi tiap perang kalo kalah jumlah.

Mata-mata: Bang, musuh kita jumlahnya 2x lipat
Khalid: Hold my drink!

lain waktu,

Mata-mata: Bang, musuh kita jumlahnya 5x lipat
Khalid: Hold my drink!

lain waktu,

Mata-mata: Bang, musuh kita jumlahnya 10x lipat. Saya pegangin gelasnya ya Bang?
Khalid: Hold my drink!

Bersambung, insya Allah…..
————————————————————————————-
Kita sambung lain waktu, Anda bisa lanjutkan aktifitas fb lainnya, baca postingan kawan lain. Buat yang tertarik, saya mo bahas hal agak teknis disini yang mungkin sulit dicerna orang awam. Kita berpegang dari keterangan sejarawan Islam yang tsiqah dari generasi awal seperti imam Al Waqidi dan Ibnu Ishaq bahwa jumlah pasukan romawi saat itu 200 ribu jumlahnya. Terjemah Sirah Ibnu Ishaq ke Eropa pertama dilakukan ke dalam bahasa Jerman oleh orientalis Gustav Weil, tahun 1864. Hampir 150 tahun sebelum terjemah bahasa Indonesianya terbit. Terjeman versi Inggris paling terkenal dikerjakan Prof. Guillaume dari kampus SOAS London, tahun 1955. Terjemah ini yang paling terkenal. Guillaume tidak hanya menterjemah, tetapi melakukan tahqiq cukup “adil” buat ukuran sarjana Islam yang juga pendeta Anglikan. Kita berhutang banyak pada para orientalis ini, yang memperkenalkan teknik tahqiq modern yang kemudian diadopsi para ulama abad 20. Tetapi saya menemukan tiap perang yang dilalui Khalid bin Walid, selalu saja ada “orientalis modern” belakangan yang mengkritik jumlah perbandingan tentara ini. Mereka coba mengaburkan, bahwa jumlah pasukan romawi itu ga mungkin sampai 100 ribu atau 200 ribu orang. Padahal orientalis masa lalu tidak pernah mengkritik jumlah tersebut sepanjang pengetahuan saya. Sampai Prof Walter Emil Kaegi dan kawan-kawannya berargumen bahwa jumlah pasukan romawi paling banter 10 ribu orang.

Mereka ini jelas-jelas pelacur intelektual. Mereka tidak sekalipun mampu membawakan data argumen mereka. Kadang tanpa malu, mereka rela menyanggah data serupa yang datang dari kalangan sejarawan kristen romawi sendiri yang memperkuat statement sejarawan Islam generasi awal. Mungkin mereka anak-cucu Romawi modern. Nenek moyang mereka gagal dalam pertempuran darat, mereka lanjutkan pakai pertempuran pemikiran. Kondisi ini diperberat dengan keputusan lembaga pimpinan menteri agama Anda yang super alim dan super pinter, yang memutuskan untuk menghapus kisah-kisah Khalid bin Walid dari kurikulum. Tapi kita bisa lawan. Kita bisa share cerita ini, atau ceritakan ulang ke anak-anak, atau buat juga versi Anda.

Referensi:
-Agha Ibrahim Akram, Saifullah: Khalid ibn Walid, dirasah asykariyah wa tarikhiyah, muassasah ar risalah, 1982
-Bidayah wa nihayah, Ibnu Katsir.
-Sirah Ibn Ishaq

Sumber: https://www.facebook.com/zico.p.putra/posts/10157390768489915

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *